SEPERTI APA DESA YANG KITA KENAL? - PEMERINTAH DESA TAMANSARI

Breaking

Kecamatan Cibugel Kabupaten Sumedang, Alamat : Jalan Raya Darmaraja-Cibugel KM 06 Antara I Tamansari Sumedang Kode Pos 45375

SEPERTI APA DESA YANG KITA KENAL?





Desa yang kita kenal di negeri kita ini, sudah dikenal sejak zaman Hindu. Perkembangan sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia telah berlangsung berabad-abad lamanya, timbul dan lenyap dalam prosesnya masing-masing. Kekuasaan politik yang meliputi sebagian atau seluruh wilayah negeri ini silih berganti. Namun desa sebagai kesatuan pemerintahan yang terendah, tetap bertahan dan hidup terus. Bahkan selama itu pula susunan pemerintahan pada umumnya tidak mengalami perubahan yang berarti. 
Perkataan "desa" berasal dari Bahasa Sansekerta, yaitu "deca" yang berarti tempat, "daerah" atau "lapangan”. Kemudian pengertian itu berkembang lagi menjadi tanah air, tanah asal atau tanah kelahiran. Istilah "desa" tidak dipakai di seluruh daerah di Indonesia. Masing-masing daerah menggunakan istilah sendiri, sesuai dengan bahasa daerahnya. Sebagai contoh, orang Sumatera Selatan menamakan desa mereka dengan istilah "dusun" atau daerah gabungannya disebut "pendopo" atau "marga". Desa di Sumatera Barat disebut dengan istilah "nagari" dan daerah gabungannya disebut dengan istilah "luhak". Di Sumatera Timur (Melayu) disebut "kampung", di Aceh disebut dengan istilah "gampong" atau "meunasah". Di Minahasa disebut "wauna", di Maluku disebut "negeri" atau "dati". Dan masih banyak lagi istilah-istilah lainnya. 
Pengetian desa yang dimaksudkan di sini adalah suatu daerah kesatuan hukum, yang merupakan tempat tinggal suatu masyarakat yang mempunyai kesatuan pemerintahan (terendah). Dalam pengertian ini, berarti desa adalah suatu daerah atau wilayah administratif yang terendah (dalam struktur pembagian wilayah-wilayah di Indonesia secara hirarkis) yang didiami oleh sekelompok masyarakat tertentu. 
Telah banyak lukisan tentang desa. Dari sekian banyak lukisan tentang desa itu, yang selalu digambarkan adalah tentang keindahan alamnya, kedamaian dan ketenteraman. Desa dalam sanjak seorang penyair, coretan seorang pelukis atau tulisan dan cerita seorang pelancong selalu digambarkan tentang suasana masyarakatnya yang ramah, aman dan damai, bentuk petak-petak sawah dan ladang yang teratur rapi, dihiasi dengan padi-padi yang menguning dan nyiur yang melambai-lambai, serta burung-burung yang beterbangan melintasi sungai-sungai yang mengalir penuh kedamaian dan ketenteraman.
Namun di balik itu semua, desa dalam perjalanan sejarahnya tidak setenang sanjaknya itu. Desa dalam perkembangannya berada dalam suatu gejolak, yaitu gejolak yang diciptakan oleh perubahan sosial ekonomis dan oleh harapan-harapan yang menyertainya. Desa di negeri kita ini, dalam sejarahnya yang paling baru tidak lagi dibungkus rapat-rapat. la mulai dimasuki oleh hasil kemajuan teknologi moderen. Dimulai dari teknologi pertanian moderen, seperti pupuk kimia, bibit padi jenis unggul, racun pemberantas hama dan sebagainya, sampai kepada barang-barang konsumsi baru seperti radio, tape recorder, sepeda motor dan sebagainya. Dalam rangka ini, berarti kita melihat desa itu dalam suatu proses sejarah, yaitu suatu perubahan masyarakat dalam zamannya, dan bukan melihat desa itu dari segi kacamata estetis yang penuh keindahan dan kedamaian. 
Sumber : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1691/1/sejarah-nurhamidah2.pdf
- See more at: http://revolusidesa.com/category/page/fakta_desa/79/SEPERTI-APA-DESA-YANG-KITA-KENAL#sthash.8jSRvXPO.dpuf

SEPERTI APA DESA YANG KITA KENAL?
08 Mar 2014

Desa yang kita kenal di negeri kita ini, sudah dikenal sejak zaman Hindu. Perkembangan sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia telah berlangsung berabad-abad lamanya, timbul dan lenyap dalam prosesnya masing-masing. Kekuasaan politik yang meliputi sebagian atau seluruh wilayah negeri ini silih berganti. Namun desa sebagai kesatuan pemerintahan yang terendah, tetap bertahan dan hidup terus. Bahkan selama itu pula susunan pemerintahan pada umumnya tidak mengalami perubahan yang berarti.
Perkataan "desa" berasal dari Bahasa Sansekerta, yaitu "deca" yang berarti tempat, "daerah" atau "lapangan”. Kemudian pengertian itu berkembang lagi menjadi tanah air, tanah asal atau tanah kelahiran. Istilah "desa" tidak dipakai di seluruh daerah di Indonesia. Masing-masing daerah menggunakan istilah sendiri, sesuai dengan bahasa daerahnya. Sebagai contoh, orang Sumatera Selatan menamakan desa mereka dengan istilah "dusun" atau daerah gabungannya disebut "pendopo" atau "marga". Desa di Sumatera Barat disebut dengan istilah "nagari" dan daerah gabungannya disebut dengan istilah "luhak". Di Sumatera Timur (Melayu) disebut "kampung", di Aceh disebut dengan istilah "gampong" atau "meunasah". Di Minahasa disebut "wauna", di Maluku disebut "negeri" atau "dati". Dan masih banyak lagi istilah-istilah lainnya.

Pengetian desa yang dimaksudkan di sini adalah suatu daerah kesatuan hukum, yang merupakan tempat tinggal suatu masyarakat yang mempunyai kesatuan pemerintahan (terendah). Dalam pengertian ini, berarti desa adalah suatu daerah atau wilayah administratif yang terendah (dalam struktur pembagian wilayah-wilayah di Indonesia secara hirarkis) yang didiami oleh sekelompok masyarakat tertentu.
Telah banyak lukisan tentang desa. Dari sekian banyak lukisan tentang desa itu, yang selalu digambarkan adalah tentang keindahan alamnya, kedamaian dan ketenteraman. Desa dalam sanjak seorang penyair, coretan seorang pelukis atau tulisan dan cerita seorang pelancong selalu digambarkan tentang suasana masyarakatnya yang ramah, aman dan damai, bentuk petak-petak sawah dan ladang yang teratur rapi, dihiasi dengan padi-padi yang menguning dan nyiur yang melambai-lambai, serta burung-burung yang beterbangan melintasi sungai-sungai yang mengalir penuh kedamaian dan ketenteraman.
Namun di balik itu semua, desa dalam perjalanan sejarahnya tidak setenang sanjaknya itu. Desa dalam perkembangannya berada dalam suatu gejolak, yaitu gejolak yang diciptakan oleh perubahan sosial ekonomis dan oleh harapan-harapan yang menyertainya. Desa di negeri kita ini, dalam sejarahnya yang paling baru tidak lagi dibungkus rapat-rapat. la mulai dimasuki oleh hasil kemajuan teknologi moderen. Dimulai dari teknologi pertanian moderen, seperti pupuk kimia, bibit padi jenis unggul, racun pemberantas hama dan sebagainya, sampai kepada barang-barang konsumsi baru seperti radio, tape recorder, sepeda motor dan sebagainya. Dalam rangka ini, berarti kita melihat desa itu dalam suatu proses sejarah, yaitu suatu perubahan masyarakat dalam zamannya, dan bukan melihat desa itu dari segi kacamata estetis yang penuh keindahan dan kedamaian.
Sumber : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1691/1/sejarah-nurhamidah2.pdf
- See more at: http://revolusidesa.com/category/page/fakta_desa/79/SEPERTI-APA-DESA-YANG-KITA-KENAL#sthash.8jSRvXPO.dpuf
SEPERTI APA DESA YANG KITA KENAL?
08 Mar 2014

Desa yang kita kenal di negeri kita ini, sudah dikenal sejak zaman Hindu. Perkembangan sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia telah berlangsung berabad-abad lamanya, timbul dan lenyap dalam prosesnya masing-masing. Kekuasaan politik yang meliputi sebagian atau seluruh wilayah negeri ini silih berganti. Namun desa sebagai kesatuan pemerintahan yang terendah, tetap bertahan dan hidup terus. Bahkan selama itu pula susunan pemerintahan pada umumnya tidak mengalami perubahan yang berarti.
Perkataan "desa" berasal dari Bahasa Sansekerta, yaitu "deca" yang berarti tempat, "daerah" atau "lapangan”. Kemudian pengertian itu berkembang lagi menjadi tanah air, tanah asal atau tanah kelahiran. Istilah "desa" tidak dipakai di seluruh daerah di Indonesia. Masing-masing daerah menggunakan istilah sendiri, sesuai dengan bahasa daerahnya. Sebagai contoh, orang Sumatera Selatan menamakan desa mereka dengan istilah "dusun" atau daerah gabungannya disebut "pendopo" atau "marga". Desa di Sumatera Barat disebut dengan istilah "nagari" dan daerah gabungannya disebut dengan istilah "luhak". Di Sumatera Timur (Melayu) disebut "kampung", di Aceh disebut dengan istilah "gampong" atau "meunasah". Di Minahasa disebut "wauna", di Maluku disebut "negeri" atau "dati". Dan masih banyak lagi istilah-istilah lainnya.

Pengetian desa yang dimaksudkan di sini adalah suatu daerah kesatuan hukum, yang merupakan tempat tinggal suatu masyarakat yang mempunyai kesatuan pemerintahan (terendah). Dalam pengertian ini, berarti desa adalah suatu daerah atau wilayah administratif yang terendah (dalam struktur pembagian wilayah-wilayah di Indonesia secara hirarkis) yang didiami oleh sekelompok masyarakat tertentu.
Telah banyak lukisan tentang desa. Dari sekian banyak lukisan tentang desa itu, yang selalu digambarkan adalah tentang keindahan alamnya, kedamaian dan ketenteraman. Desa dalam sanjak seorang penyair, coretan seorang pelukis atau tulisan dan cerita seorang pelancong selalu digambarkan tentang suasana masyarakatnya yang ramah, aman dan damai, bentuk petak-petak sawah dan ladang yang teratur rapi, dihiasi dengan padi-padi yang menguning dan nyiur yang melambai-lambai, serta burung-burung yang beterbangan melintasi sungai-sungai yang mengalir penuh kedamaian dan ketenteraman.
Namun di balik itu semua, desa dalam perjalanan sejarahnya tidak setenang sanjaknya itu. Desa dalam perkembangannya berada dalam suatu gejolak, yaitu gejolak yang diciptakan oleh perubahan sosial ekonomis dan oleh harapan-harapan yang menyertainya. Desa di negeri kita ini, dalam sejarahnya yang paling baru tidak lagi dibungkus rapat-rapat. la mulai dimasuki oleh hasil kemajuan teknologi moderen. Dimulai dari teknologi pertanian moderen, seperti pupuk kimia, bibit padi jenis unggul, racun pemberantas hama dan sebagainya, sampai kepada barang-barang konsumsi baru seperti radio, tape recorder, sepeda motor dan sebagainya. Dalam rangka ini, berarti kita melihat desa itu dalam suatu proses sejarah, yaitu suatu perubahan masyarakat dalam zamannya, dan bukan melihat desa itu dari segi kacamata estetis yang penuh keindahan dan kedamaian.
Sumber : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1691/1/sejarah-nurhamidah2.pdf
- See more at: http://revolusidesa.com/category/page/fakta_desa/79/SEPERTI-APA-DESA-YANG-KITA-KENAL#sthash.8jSRvXPO.dpuf